Foto oleh M Firdaus Rahmatullah

Pelajaran Mengajar

oleh: M Firdaus Rahmatullah

Saya tidak habis pikir mengapa sikap mereka bisa begitu terhadap saya. Padahal terhadap guru lain, sikap mereka tidak demikian.

Setiap kali mengajar di kelas, ada-ada saja yang murid-murid saya lakukan; berbincang dengan teman sebangku, makan-makan dan minum-minum, menyimak handphone dengan khidmat, hingga mendengar musik atau video melalui earphone, atau—yang lebih parah—tidur.

Saya tidak mempermasalahkan jika mereka membawa HP ke dalam kelas. Itu hak mereka. Saya pikir, barangkali, jika ada pesan atau telepon penting dari orang tua mereka akan sesuatu hal tentang keluarga, semisal kabar duka dari salah satu anggota keluarga, tentu dengan segera mereka bisa mengetahui kabar tersebut dan segera bisa minta izin pulang dan tidak mengikuti pelajaran pada hari itu. Atau juga, jika murid-murid saya lupa membawa uang saku atau bekal dari rumah untuk makan siang—sebab sekolah menerapkan sistem fullday school—mereka bisa meminta orang rumah untuk mengirim bekal tersebut ke sekolah tanpa perlu izin kepada guru atau staf sekolah lain. Sejatinya memang demikian guna telepon genggam.

Kegunaan lain telepon genggam berbasis android adalah memudahkan murid-murid saya mengakses materi-materi pelajaran melalui internet. Zaman kini tentu tidak sama dengan zaman ketika saya dulu sekolah. Dulu, sumber utama pelajaran adalah buku dan guru di muka kelas. Tak ada yang lain. Jadi, ketika lengah sedikit ketika proses pembelajaran berlangsung, maka saya tertinggal materi-materi yang disampaikan oleh guru saya. Baik yang disampaikan secara lisan maupun ditulis di papan hitam. Pun jika tidak punya buku pegangan yang disebut buku paket, yang harganya setara uang SPP bulanan, kata guru saya, merupakan perbuatan yang tidak mencintai dan menghormati ilmu. Namun kini zaman telah berubah.

Saya mesti mengikuti gerak langkah zaman. Pembelajaran di kelas pun tidak bisa tidak mengikuti perkembangan tersebut. Buku-buku pegangan wajib yang disediakan Kementerian Pendidikan yang diberikan secara cuma-cuma kepada mereka dan buku-buku yang saya sarankan untuk mereka punyai dengan membeli sendiri, tetap menjadi sumber acuan pembelajaran, meski di kelas sudah disediakan jaringan internet gratis dengan syarat mereka mempunyai laptop atau HP berbasis android. Hampir semua siswa mempunyai salah satu benda tersebut. Kemudahan mencari informasi di internet membuka wawasan mereka dalam belajar. Apalagi semua materi yang saya ajarkan hampir semua ada di internet, bahkan soal-soal yang hendak saya berikan menjelang ulangan harian, dipastikan dapat ditemui di sana. Pembelajaran di kelas pun tidak lagi bersumber pada buku atau guru.

Lantas, apa peran saya?

“Tugas kita adalah mendampingi dan mengawasi para siswa supaya tidak berselancar ke situs-situs internet di luar materi pelajaran.” Demikian yang dikatakan Bapak Kepala Sekolah dalam sebuah pelatihan guru baru menjelang tahun ajaran baru.

Saya memahami peran itu. Apalagi siswa-siswa saya adalah remaja generasi terkini yang sudah mengenal benda-benda semacam itu di usia dini, bahkan sejak dalam kandungan. Ketika mereka mulai membuka situs yang tidak seharusnya, misalnya konten yang berbau kekerasan dan pornografi, saya segera mencegahnya.

Namun tidak selamanya perkataan saya diindahkan. Kelonggaran yang saya berikan mestinya diperhatikan. Sebagaimana Adam dan Hawa memakan buah khuldi di sorga, larangan saya seolah angin lalu, yang masuk di telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Murid-murid saya dengan mudah menjelajahi alamat-alamat website, membuka gambar dan video yang mereka sukai, mendengarkan musik streaming, hingga abai akan petunjuk dan keterangan yang saya berikan. Walhasil, pekerjaan saya bertambah sebagai polisi siber. Berulang kali saya ingatkan bahwa hal tersebut boleh-boleh saja selama tidak dilakukan saat pelajaran berlangsung. Bermain game online misalnya, tak sungkan-sungkan mereka mainkan ketika pelajaran.

Kelonggaran yang saya berikan benar-benar mereka manfaatkan.

Saya ingat betul. Dulu, di sekolah—yang kebetulan jadi satu dengan pesantren, saya dan teman-teman sekelas begitu malu dan takut ketika bermain-main dan tidak menyimak penjelasan guru kami. Seolah-olah tiap kata yang keluar dari mulutnya adalah ricik air yang jernih yang amat sayang bila kami lewatkan alirannya. Seolah untaian kalimat yang dilantunkannya tidak akan pernah kami dapati lagi di lain hari. Seolah esok kami tiada berjumpa dengannya lagi. Perasaan itu yang di kemudian hari saya tahu berarti penyesalan.

Sering saya menyesal jika melewatkan tiap tulisan yang diguratkan oleh guru saya di papan tulis berwarna hitam yang penuh guratan dan retak itu. Dari sana, saya melihat kemilau cahaya yang berbeda dari cahaya yang lain. Saya menghirup udara yang paling murni yang tidak ada di tempat lain. Saya menyentuh tangan para guru sepuh dan ulama terdahulu yang mendaraskan ilmunya kepada guru saya. Saya merasakan getaran tak biasa yang menjulur dari ujung rambut hingga telapak kaki. Saya bagai tercebur ke dalam semesta pengetahuan.

“Andai saja engkau tahu, anak-anakku, keluasan ilmu dan pengetahuan Iblis, tentu sepanjang hidupmu engkau tak akan berani menatap langit. Nabi Adam ‘alaihissalam, konon, selama tiga ratus tahun, tidak berani mendongakkan kepalanya lantaran malu dengan Allah azzawajalla tersebab dosa memakan khuldi di sorga. Ia begitu malu, bukan karena melanggar perintah itu, akan tetapi apa yang telah dilakukannya tidak mencerminkan akhlak seorang makhluk ciptaan-Nya: sebagai wajah-Nya.

Sementara Iblis, imam para malaikat di seluruh penjuru semesta raya, adalah sosok dengan keluasan ilmu dan pengetahuan yang maha. Bahkan, konon, Jibril sang penyampai wahyu dan Mikail sang pembagi rezeki, menangis tatkala sosok itu diusir dari arsy, yang kisah-kisahnya dicatat dalam Kitab yang Nyata; bukan lantaran membangkang perintah-Nya, akan tetapi lantaran kesombongannya yang merasa lebih mulia, yang diciptakan dari api, tinimbang Adam yang diciptakan dari tanah. Itu persoalan akhlak, anak-anakku. Maka dari itu, berakhlaklah yang mulia dalam tiap gerak dan laku kehidupanmu.”

Demikian pelajaran yang saya ingat hingga kini. Guru saya tidak menginginkan saya dan teman-teman menguasai semua ilmu dan pengetahuan—meskipun itu penting dalam menjalani hidup dan kehidupan. Namun yang diingatkannya adalah supaya kami, murid-muridnya, jangan sampai mengabaikan akhlak. Meski telah dewasa.

* * *

Saya mesti belajar memahami situasi dan psikologi murid-murid saya. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda satu sama lain. Jika saya menerapkan sebuah metode pembelajaran di kelas sebagaimana teori-teori yang saya pelajari selama kuliah maupun program profesi guru, tentu tiada satu pun yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Seolah mereka weruh sedurunge winarah, seolah sudah tahu metode pembelajaran yang akan saya gunakan di kelas beserta celah mengingkarinya. Dengan mudah mereka patahkan penjelasan saya dengan cara acuh, bahkan tidur. Dengan demikian, saya bermonolog di antara tabiat penonton yang telah membayar karcis di loket pertunjukan.

Isron, misalnya. Dia salah seorang murid saya yang gemar tidur. Dari pelajaran dimulai pagi hari hingga matahari pelan-pelan hendak lungsur ke arah barat, tak ada satu hal yang dilakukannya selain tidur. Dan perbuatan demikian dilakukannya bahkan sedari kelas sepuluh. Kini dia kelas sebelas. Dan jika ada seorang pun yang mengganggu tidurnya, emosinya meledak bak gunung berapi yang memuntahkan lava panas. Termasuk saya dan para guru. Tak ada yang tahu mengapa sikapnya bisa demikian. Berbagai cara telah kami—saya dan guru-guru—lakukan, termasuk melakukan visiting ke rumahnya. Mungkin akan kami temukan jawaban atas segala kelakuan Isron. Akan tetapi, nihil yang kami temui. Bahkan keluarganya tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang penting, bila tidak berhubungan dengan tangkapan hasil laut.

“Yang penting anak saya mau sekolah,” demikian perkataan pamungkas orang tua Isron.

Lain cerita dengan Jefran. Meski namanya seperti nama-nama artis ibu kota, bukan berarti pikiran dan sikapnya sama. Berita yang beredar berdasarkan kesaksian teman-teman sekelasnya beserta kakek dan nenek Jefran—sebab Jefran yatim piatu—dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, kepalanya pernah terinjak kaki sapi-sapi milik kakek dan neneknya sewaktu menggembalakannya di bukit Ringgit. Tak ada luka atau semacamnya tatkala peristiwa itu terjadi. Namun, keesokan harinya, dimulai di ruang kelas, segala yang berhubungan dengan pelajaran bagai awan yang melayang di langit-langit pikirannya. Tak ada satu pun tentang materi pelajaran yang nyantol di kepala Jefran. Dia seolah hilang akal, tetapi baik-baik saja dalam pergaulan dengan teman-temannya.

“Tugas seorang guru bukanlah membikin pintar murid-muridnya. Bukan sekadar menyampaikan materi-materi pelajaran yang senantiasa diulang setiap tahun. Sejatinya, tugas seorang guru, hampir mirip tugas Nabi: untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Ucapan kiai saya menggema dan memantul dalam dinding akal dan sanubari. Ucapan yang selalu terbit usai saya memarahi murid-murid saya yang tidak mengerjakan tugas-tugas yang saya berikan. Ucapan yang senantiasa hadir saat saya menjewer murid-murid saya yang tidur dan tidak mencatat materi yang saya tulis di papan tulis. Saya tidak menjadi seorang guru sebagaimana mestinya. Saya tidak mengikuti cara-cara yang diajarkan oleh guru-guru saya. Saya sesungguhnya bukan seorang guru.

Mengapa, setelah sekian tahun berlalu, saya baru menyadari hal itu? Tidakkah selama ini saya bersentuhan dengan anak-anak beragam latar belakang dan karakter? Bukankah dengan mengajarkan akhlak kepada mereka saya, meski sedikit, turut membentuk akhlak sebuah generasi untuk masa depan bangsa dan semua orang? Mengapa…

Di ruang kelas yang riuh, diam-diam air bening menetes di pelupuk mataku. Di sana ada sebuah masa lalu yang membayang begitu rupa. Wajah guru-guru saya yang pernah saya abaikan dan sepelekan ketika menyampaikan ayat-ayat pengetahuan.

Di situ rupanya Iblis sedang bertengger di atas kebodohan saya. {*}

/Panarukan, 2019/

M Firdaus Rahmatullah, lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Berkhidmat di SMAN 1 Panarukan sebagai Guru Bahasa Indonesia. Bukunya yang terbit Cerita-cerita yang Patut Kau Percaya (Diva Press, 2019)

2 Komentar pada “Pelajaran Mengajar”

  1. Tulisan dg bernas, bahasa sederhana yg Kejujuran Menceritakan situasi yg sebenarnya. Ada kekecewaan. Namun jg ada harapan. sekaligus doa..karena sejatinya seorang guru adalah mereka yg terus belajar..berintrospeksi diri..dan tidak pernah merasa hebat sendiri..terus berkarya pak fir..

  2. Mudah-mudahan. sebagai pembelajaran hidup kehidupan kita-kita sendiri untuk melihat dulu, sekarang maupun yang akan datang, semoga bermanfaat amiin..

Tinggalkan Balasan ke Sugiono Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *