Seusai Kekalahan Sang Pangeran dari Seberang

oleh : M Suhdi Rasid*

Risik angin pelan menerbangkan daun-daun jati. Debur ombak mengempas pantai, sampai di daratan membawa semacam kabar buruk nun kemrusuk. Berita kekalahan seorang pangeran dari tanah Madura sampai juga di pesisir utara Jawa. Tiada jalan pulang, sebab pulang hanya membawa aib dan malu: sebuah perasaan yang mesti dilarungkan ke laut. Tiada tempat tujuan, sebab tujuan adalah akhir, bukan mula dari yang dinubuatkan.

Tentu bukan demikian yang diharapkan Pangeran Arya Gajah Situbanda. Bukan demikian cita-cita yang terpatri di dalam sanubari. Bagaimana mungkin putera mahkota sesakti dirinya dikalahkan oleh seorang pencari rumput yang tidak jelas asal usulnya.

“Sudah kuturuti keinginan Dewi Purbawati, putri semata wayang Adipati Jayengrana, membabat alas paling angker di barat Kadipaten Surabaya, tapi mengapa ia perbolehkan orang lain mengikuti sayembara itu? Bukankah yang demikian adalah sebuah syarat bagiku agar aku bisa melamar dan menikahi puteri paling cantik di Tanah Jawa itu, bukan juga untuk orang lain?”

Suara rintihan sang pangeran menggema dari hutan ke hutan, menelusup ke tiap ranting dan dahan, dan melintasi tiap lembah yang wingit dan penuh dedemit. Ia papa penuh luka. Tak berdaya.

“Mestinya langit memihakku. Bukan membuat kisah yang lain.”

Nestapa dibawa pangeran itu bagai beban berat yang mesti diusung. Jalan yang ia lewati adalah penyaksi bisu amarah dan kekalahannya. Darah yang menetes dan luka yang tak terbebat adalah petilasan yang membawa beribu  ketidakberdayaan mewujudkan keinginannya: membawa pulang sang putri mahkota, mempersembahkannya kepada ayahandanya, Adipati Cakraningrat, dan menjadikannya permaisuri ketika kelak bertahta.

“Lebih baik mati di tanah seberang daripada pulang tanpa membawa apa-apa yang layak dipandang.”

Tanah yang kering dan berbatu tak menyimpan sedikit pun aliran air guna membasuh luka yang tak kunjung mengering. Air laut tetaplah air laut, bukan air tawar yang tawar. Kemudian, di haribaan sebuah batu gunung, Arya Gajah Situbanda berkata, “Semoga dilimpahkan guyuran air hingga tanah yang kering menjadi tak kering. Deras sederas-derasnya.” Demikianlah. Kelak, di kemudian hari, jejak munajat pangeran disebut Banyuglugur.

Tanah yang asing dan belum dijamah ia lalui tanpa peduli arah dan tujuan. Sesiut suara pun didengarnya dengan saksama. Suara-suara itu seperti mengejeknya saja dan tak peduli derita yang ditanggungnya. Suara-suara seperti auman singa terus mengusik dirinya, seolah menantang pertarungan terbuka.

“Inikah pangeran dari seberang yang sakti mandraguna?”

Lalu suara itu menghilang.

“Hanya sampai di situ, dan engkau gagal mendapatkan puteri sang adipati?”

Lalu hening.

“Sebagaimana engkau lihat, kisanak, aku terluka. Untuk berjalan saja kakiku pontang-panting, apalagi bertarung denganmu. Apakah demikian disebut kesatria?”

Suara Arya Gajah Situbanda terdengar iba. Harga dirinya runtuh tersebab kekalahan tak dinyana itu—yang di kemudian waktu ia ketahui bahwa yang mengalahkannya adalah Jaka Jumput, pemuda desa yang mempunyai cambuk Gembolo Geni dan berhasil merampas keris pusakanya. Keris itu adalah jati dirinya. Nyawanya. Kini tiada lagi yang tersisa dari tubuhnya, selain kekecewaan dan luka yang kian nganga.

Auman-auman di sekitar pangeran berangsur mendekat, semakin dekat, dan kian menampakkan wujud sebenarnya. Suara-suara itu tak lain adalah milik Jin Trung, penghuni Alas Katrungan yang terkenal sunyi dan angker. Bagai mengenal sosok itu, Pangeran Situbanda mendekatkan diri dan bersimpuh di hadapan sang pemilik alas.

“Tolonglah aku, Simo. Aku sudah tidak berdaya.”

“Arya Gajah Situbanda, engkaukah itu?”

Tanpa basabasi, Jin Trung lantas membopong pangeran, membawanya ke Kedung Gempol—tempat ia dulu disembuhkan oleh seorang Syekh berjuluk Maulana Magribi. Ia ingin pangeran juga sembuh di punden suci itu.

Sebenarnya Jin Trung telah lama mengenal Arya Gajah Situbanda. Pangeran itu adalah murid sekaligus putra asuhnya ketika ia mengabdi di Kadipaten Madura. Lantaran kesembronoannya membantu pemberontakan putra Cakraningrat yang lain, Jin Trung diusir dari kerajaan dan memilih menyeberang ke Kerajaan Keta, sebuah vazal di pantai utara Jawa. Ia dijadikan demung dan diberi lahan di sebuah daerah yang kemudian diberi nama sebagaimana jabatannya, Demung. Sementara tempat bertemunya pangeran dan Jin Trung dinamai kampung Simo.

Berkat banyu urip itu, pangeran sembuh seperti sedia kala. Ia pun berterima kasih kepada Jin Trung, yang sedari kecil dipanggilnya Simo—sebab suara dan wajahnya yang mirip seekor singa. Air kehidupan itu benar-benar memberikan kehidupan kedua bagi sang pangeran.

Atas petunjuk Simo, berangkatlah Arya Gajah Situbanda dan bekas pengasuhnya menuju Kerajaan Keta. Kerajaan ini satu-satunya kerajaan yang tidak mau mengakui kedaulatan Majapahit dengan Amukti Palapanya Gajah Mada. Barangkali dengan membantu kerajaan ini, Arya Gajah Situbanda dapat memperluas pengaruhnya dan mengalahkan mahapatih itu sehingga menguasai seluruh tanah Jawa, bahkan Nuswantara. Selain itu, ia bisa membalaskan dendamnya terhadap orang-orang yang melukai dan mengkhianatinya.

”Jika aku tak mendapatkan seorang putri cantik dari Jawa, maka aku harus mendapatkan kuasa di Jawa.”

Ikrar itu diucapkannya seolah ingin mengungguli sumpah sang mahapatih itu. Tertera jelas di kalbunya. Menjadi panduan memenuhi ambisinya.

Perjalanan panjang Arya Gajah Situbanda pun dimulai. Berbekal udheng (ikat kepala) mistis pemberian Sultan Agung, berangkatlah ia menyisiri pesisir pantai utara. Dengan ditemani Simo, Arya Gajah Situbanda memperkenalkan diri sebagai pangeran dari tanah Madura. Kunjungannya dari satu kerajaan ke kerajaan lain adalah menjalin dukungan dan menggalang persatuan untuk melawan Kerajaan dari Barat. Selain itu, upayanya memenuhi ambisinya adalah tujuan yang lain. Banyak adipati yang bersimpati dan mengamini niat itu, tapi tidak sedikit yang tidak percaya bahkan menolak.

“Siapalah Arya Gajah Situbanda itu.”

“Ia pangeran dari tanah seberang.”

“Menurut kabar yang kudengar, bukankah ia adalah pangeran yang dikalahkan oleh seorang pencari rumput?”

“Ia bukan pangeran.”

“Ia tak memiliki kesaktian selayaknya pangeran.”

“Ia gila perempuan.”

Namun cibiran demikian tidak menyurutkan semangat Pangeran Arya Gajah Situbanda. Pantang ia kalah untuk kali kedua. Meskipun keris pusakanya telah direbut oleh pemuda pencari rumput itu, ia masih mempunyai udheng sakti yang belum ia ketahui kesaktiannya. Itulah pusaka yang tersisa darinya.

Semangat dan usaha keras itu membuahkan hasil. Dukungan demi dukungan pangeran peroleh. Salah satunya dari Kerajaan Blambangan. Sedikit lagi niat menguasai Jawa akan terwujud. Ialah musuh terbesar Majapahit yang sulit ditaklukkan. Tak cukup sampai di situ, Arya Gajah Situbanda juga akan meminta bantuan Ratu Rengganis dari Argapura, sebab dialah yang tahu persis bagaimana cara menaklukkan kerajaan yang dipimpin oleh Hayam Wuruk tersebut. Sang ratu pun  merestui.

“Penguasa sejati adalah penguasa yang sanggup merangkul golongan-golongan dalam satu ikatan. Apalah arti memimpikan anak raja jika ada mimpi yang lebih besar daripada itu.”

Racun laut utara menebar aromanya. Ikan-ikan berloncatan hendak menyentuh bibir pantai. Sengat matahari menguarkan bau busuk di sepanjang tanjung. Laut seolah berwarna putih. Bagai tertumpahi racun-racun yang datang entah dari mana.

Banyune puteh (airnya berwarna putih), Gusti,” ujar Simo yang menemani perjalanan Arya Gajah Situbanda.

“Kelak namakan Banyuputih.”

Kedua sosok itu terus menyusuri pantai utara. Melewati hutan yang panjang. Sungai-sungai besar dan kecil. Sesekali memandang laut lepas; yang mereka tahu jika dirunut pandangan itu akan tertuju pada kampung halaman, dari mana mereka berasal: tanah Madura. Namun ditepisnya pikiran itu. Ambisinya adalah membuktikan bahwa seorang disebut sakti bukanlah berhasil mendapatkan perempuan yang diinginkannya, akan tetapi lebih dari itu, mendapatkan kekuasaan sebesar-besarnya hingga nama baik dan martabatnya kembali seperti sedia kala.

Namun perjalanan seseorang tidaklah semulus yang jalan tanpa kerikil dan pasir. Aroma racun yang berasal dari laut berwarna putih itu merasuk ke dalam tubuh sang pangeran. Pelan-pelan membuka kembali luka yang diperolehnya ketika bertarung dengan Jaka Jumput, pemuda pencari rumput itu. Simo yang setia menemani, tak mungkin membawa pangeran kembali ke Sumber Air Kehidupan. Selain jarak yang jauh, di punden suci itu tidak dapat digunakan dua kali untuk orang yang sama. Sementara kabar yang ia dengar tentang sumber yang sama terletak di gunung Argapura, yang dikuasai Ratu Rengganis, juga tak mungkin ditempuh, sebab jalur menuju tempat itu lebih wingit dan gaib. Banyak yang menganggap bahwa jalur itu tidak ada.

“Apa yang mesti kulakukan, Pangeran?” Simo bersedih.

“Engkau tak perlu bersedih, Simo.” Pangeran menenangkan. “Biarlah udheng ini yang menuntun jalan kita. Hanya pusaka ini yang kupunyai. Biarlah ia membuktikan kesaktiannya sebelum aku benar-benar tak sanggup lagi menanggung sakit dan derita ini.”

Pangeran dan Simo memasrahkan semuanya pada ikat kepala itu. Secara ajaib, pusaka itu menunjukkan jalan menuju timur, yang melintasi daerah yang dipenuhi tanaman-tanaman bertaruk. Hijau pupus sempurna bagai tiada bertepi diembus angin laut yang kasar. Di sekitar situ, keduanya berhenti sejenak dan memakan tunas-tunas tumbuhan tersebut.

“Tanaman-tanaman di daerah ini keluar taruknya. Maukah engkau menamainya Panarukan, Simo?”

“Sesuai perintahmu, Pangeran.”

Simo membuat tanda di tempat itu sebagai peringatan.

Ikat kepala penunjuk jalan itu pelan-pelan berubah hijau. Warnanya lembut dan menyebarkan kesuburan di daerah yang dilaluinya. Tanah yang keras dan panas perlahan menjadi teduh, sejuk, dan dipenuhi tumbuhan hijau. Seolah pertanda bahwa Sang Mahakuasa merestui perjalanan sang pangeran dan bekas pengasuhnya.

Di malam buta, sempurna gelapnya. Tiada cahaya rembulan dan kerlip bintang bertebaran di langit. Udara seolah berhenti dan napas beradu dengan debur ombak yang menantang karang. Di sebuah daerah yang berpatok batu dari zaman Megalitikum, Arya Gajah Situbanda dan Simo berhenti. Tempat itu hening, teduh, tidak panas dan tidak juga dingin. Pangeran menganggap tempat itu tepat untuknya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Tubuhnya semakin sulit berdiri. Berjalan pun bagai tertatih-tatih. Kekuatannya seakan susut dan hilang entah kemana.

Udheng sakti pangeran tiba-tiba bersinar terang, begitu terang hingga sempurna terangnya menerangi malam. Langit mendadak benderang. Putih dan bersih, bagai disapu sebuah warna yang suci dari ilahi. Malam mendadak sirna.

“Inilah Patokan. Kutandai sebagai tempatku istirah dan mencatat perjalananku. Jadilah saksi bahwa aku tidak kalah, Simo. Jadilah saksi bahwa luka dan kecewaku adalah pancang bahwa kelak engkau namai petilasanku ini dengan namaku. Siapa saja yang mendatanginya, kudu bondo sing akeh (harus membawa modal yang banyak). Supaya tidak menjadi bagian orang-orang yang kalah dan dikalahkan.”

Usai berkata demikian, Pangeran Arya Gajah Situbanda moksa. Lesap bersama semesta. Menyatu bersama alam. Membiaskan cita-citanya menguasai tanah Jawa dan mewujudkan ambisinya sebagai penguasa Nuswantara.

Sementara Simo terhenyak dalam kesedihan, fajar pun merekah, pagi hendak singgah. []

***

Catatan:

Cerita ini merupakan Pemenang Harapan III Lomba Menulis Cerita Rakyat Tahun 2020, yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Situbondo, dan dimuat dalam buku “10 Cerita Rakyat Situbondo”.

***

Tentang penulis

M. Suhdi Rasid, merupakan siswa kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 1 Panarukan. Aktif di ekstrakulikuler pramuka. Menggeluti dunia tulis menulis. Tinggal di Perum Paowan Asri, Panarukan, Situbondo.

Dapat ditemui di: https://www.instagram.com/m_suhdirasid/


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *